Minggu, 20 Desember 2009
Senin, 18 Mei 2009
SIMBOL SUKSES

Pengertian simbol sukses
• Simbol berarti abstraksi atau representasi dari suatu hal yang konkrit. Sebuah
simbol baru berlaku jika sudah ada kesepakatan tentang simbol tersebut. Simbol
"$" belum dapat dikatakan mata uang Dollar sebelum seluruh dunia menyepakatinya.
• Sukses berarti berhasil, atau dapat dikatakan tercapainya sesuatu yang
dikehendaki atau diinginkan. Sukses bersifat relatif tergantung dari pengetahuan
seseorang tentang hakekat sukses yang sebenarnya. Dengan definisi ini hanya
orang yang bersangkutan yang dapat menilai apakah ia telah sukses. Orang lain
dapat saja menilai bahwa orang kaya itu telah sukses, padahal bukan kekayaan
yang diinginkannya, tetapi ketenangan jiwa, maka ia belum merasa dirinya sukses
dalam hidup.
Langkah hidup
Langkah-langkah untuk mencapai sukses dalam kehidupan disebut langkah hidup.
1. Pikiran adalah langkah hidup
Pikiran manusia bukan saja sebagai tool (alat), tetapi juga merupakan suatu
control (kendali). Karena pikiran kita juga merupakan suatu control berarti dia
ikut menentukan apa-apa yang akan kita lakukan.Itulah sebabnya kita harus
berhati-hati dalam memberikan input (masukan) ke dalam pikiran kita. Kita harus
selalu memeriksa isi pikiran kita dan mengisinya dengan pemikiran yang bersih.
2. Ucapan adalah langkah hidup
Ungkapan "Bicara adalah perak, diam adalah emas" tidaklah seluruhnya benar. Yang
membedakan ucapan adalah nilai dan isi yang terkandung di dalamnya. Ucapan yang
mempunyai nilai dan isi yang baiklah yang akan menyelamatkan kita. Dan yang
sebaliknya akan `membinasakan' kita. "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan
hari Kiamat,berkatalah yang baik atau diam."(HR.Bukhari dan Muslim)
"Barang siapa yang menjamin untukku dengan apa yang ada di antara dua tulang
rahangnya dan di antara dua kakinya, maka aku jamin syurga baginya."(HR. Bukhari)
Ucapan dapat lebih melukai daripada pedang, oleh karena itu ucapan perlu dijaga.
Imam Ghazali dalam kitab Ihya `Ulmuddin membahas khusus satu bab tentang bahaya
lisan yang menunjukkan bahaya lisan jika tidak benar ini akan berakibat tidak
saja di dunia, tetapi juga di akhirat.Sekali berbohong di dunia orang tidak akan
mempercayainya lagi dan Allh sangat murka terhadap orang yang mengatakan apa
yang tidak dilakukannya. (QS.Ash-Shaf: 2-3)
3. Tindakan adalah langkah hidup
Seseorang membutuhksn tindakan untuk mencapai sukses.Jika tindakan (amal) yang
dilakukan itu kebajikan, maka berlakulah `barang siapa menanam, dia akan memetik
hasilnya'. Sebaliknya, jika tindakannya berupa kemaksiatan, maka berlakulah
`barang siapa menggali lubang, maka ia akan terperosok ke dalamnya'. Kedua
prinsip tersebut berlaku di dunia dan di akhirat, atau kedua-duanya. Bukankah
manusia hanya berusaha sedangkan Allahlah yang menentukan?( QS.13:11)
Simbol sukses dan simbol gagal
Pikiran, ucapan, dan tindakan adalah faktor internal manusia. Ketiganya
merupakan langkah hidup. Setiap langkah hidup yang semakin mendekatkan seseorang
ke tujuan yang dikehendaki disebut sebagai simbol sukses. Sedangkan, sebaliknya
adalah simbol gagal.
Faktor eksternal yang juga ikut menentukan langkah hidup di antaranya adalah
lingkungan. "Sesungguhnya perumpamaan bergaul dengan teman yang baik dan orang
yang jahat adalah seperti bergaul dengan penjual minyak wangi dan pandai besi.
Teman penjual wangi itu boleh jadi akan memberi minyak wangi kepadamu atau kamu
dapat membelinya atau paling tidak kamu akan mendapat bau harum daripdanya.
Sedangkan teman pandai besi boleh jadi akan membuat pakaianmu berlubang
(terbakar) atau paling tidak kamu ikut hangus dengannya." (HR.Bukhari- Muslim)
Peranan niat dalam mencapai sukses
Kita harus yakin bahwa sukses yang kita kejar di dunia ini semata-mata karena
mengharapkan ridho-Nya. Bukan karena mengharapkan ridho manusia.
Sukses di atas sukses. (QS.3:185; 98:8)
Tipe-tipe manusia:
• Tipe manusia yang memiliki simbol gagal.Gagal di dunia dan di akhirat
• Tipe manusia yang memiliki simbol sukses, tetapi tidak memiliki niat
ikhlas.Sukses di dunia, tetapi gagal di akhirat.
• Tipe manusia yang memiliki simbol sukses dan didasari oleh niat yang
ikhlas.Sukses di dunia dan di akhirat.
REFERENSI
Paket BP Nurul Fikri,Simbol Sukses
Minggu, 17 Mei 2009
Khusyu’ dalam Shalat

Oleh: Fadhilatul ‘Allamah DR. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah
Segala puji khusus bagi Allah, yang telah memerintahkan untuk beristi’anah (meminta tolong kepada-Nya) dengan kesabaran dan shalat dalam menghadapi kesulitan-kesulitan hidup. Dia memberitakan bahwa hal itu merupakan suatu yang berat kecuali bagi para hamba-Nya yang khusyu’. Allah juga menyifati kaum mukminin dengan khusyu’ dalam shalat mereka. Allah menjadikannya sebagai sifat-sifat mereka. Allah berfirman:
﴿ قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ. الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ ﴾
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, [Al-Mukminun: 1-2]
Aku memuji-Nya atas besarnya anugerah dan kebaikan-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah satu-satu-Nya tidak ada sekutu bagi-Nya, sebagai bentuk pengagungan terhadap-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, sang juru dakwah kepada keridhaan-Nya, shalat Allah atasnya dan atas keluarga dan para shahabatnya serta siapapun yang mengikuti mereka dengan baik. Amma ba’d:
Wahai umat manusia, bertaqwalah kalian kepada Allah. Ketahuilah bahwa khusyu’ dalam shalat merupakan ruh ibadah shalat tersebut sekaligus maksud utama ditegakkannya ibadah shalat tersebut. Allah telah menyifati para rasul-Nya dan para hamba-Nya yang shalihin dengan sifat tersebut (khusyu’). Allah berfirman:
﴿ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ ﴾
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada kami dengan harap dan cemas [1], dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” [Al-Anbiya`: 90]
Allah juga berfirman:
﴿ قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ. الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ ﴾
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, [Al-Mukminun: 1-2]
Allah juga menyifati para ‘ulama dengan sifat khasy-yah (takut) kepada-Nya dan khusyu’ tatkala mendengar Firman-Nya. Allah berfirman:
﴿ إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ﴾
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” [Fathir: 28]
Allah juga berfirman:
﴿ إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلأَذْقَانِ سُجَّدًا. وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولا. وَيَخِرُّونَ لِلأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا ﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang diberi ilmu sebelumnya apabila Al-Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas wajah mereka sambil bersujud, seraya mereka berkata: “Maha Suci Rabb kami, sesungguhnya janji Rabb kami pasti dipenuhi”. Dan mereka menyungkur atas wajah mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” [Al-Isra`: 107-109]
Asal makna khusyu’ adalah kelembutan dan ketenangan hati, serta ketundukannya. Apabila hati telah khusyu’ maka akan diikuti oleh khusyu’ anggota badan. Sebagaimana sabda Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam:
« أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ. أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ »
“Ketahuilah, bahwa dalam jasad itu terdapat segumpal daging. Kalau ia baik, maka baik pulalah seluruh jasad, namun apabila ia jelek maka jelek pulalah seluruh jasad. Ketahuilah bahwa segumpal darah tersebut adalah hati.” [Muttafaqun ‘alaihi]
Apabila seseorang membuat-buat khusyu’ pada anggota badannya tanpa diiringi kekhusyu’an hati, maka yang demikian adalah khusyu’ nifaq. ‘Umar Radhiyallah ‘anhu pernah melihat seorang pemuda menundukkan kepalanya, maka ‘Umar pun berkata, “Wahai kamu, angkat kepalamu, karena khusyu’ itu letaknya bukan di leher. Sesungguhnya khusyu’ itu tidak lebih dari apa yang terdapat dalam hati.”
Khusyu’ yang terdapat dalam hati tidak lain dihasilkan dari ma’rifah (pengenal dan ilmu) tentang Allah ‘Azza wa Jalla dan ma’rifah tentang keagungan-Nya. Barangsiapa yang semakin mengenal dan berilmu tentang Allah, maka dia makin khusyu’ terhadap-Nya. Di antara sebab terbesar tercapainya khusyu’ adalah mentadabburi Kalamullah. Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman:
﴿ لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللهِ ﴾
“Kalau seandainya Kami turunkan Al-Qur`an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan itlah perumpamaan-perumpamaan kami buat untuk manusia agar mereka berfikir.” [Al-Hasyr: 21]
Allah telah menyifati para ‘ulama dari kalangan Ahlul Kitab dengan sifat khusyu’ ketika mendengar Al-Qur`an ini. Allah Ta’ala berfirman:
﴿ إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلأَذْقَانِ سُجَّدًا. وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولا. وَيَخِرُّونَ لِلأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا ﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang diberi ilmu sebelumnya apabila Al-Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas wajah mereka sambil bersujud, seraya mereka berkata: “Maha Suci Rabb kami, sesungguhnya janji Rabb kami pasti dipenuhi”. Dan mereka menyungkur atas wajah mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” [Al-Isra`: 107-109]
Allah telah mencela orang yang tidak khusyu’ ketika mendengar Firman-Nya. Allah berfirman:
﴿ أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ ﴾
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyu’ hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” [Al-Hadid: 16]
Bahkan Allah mengancam pemilik hati yang keras dengan firman-Nya:
﴿ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللهِ أُولَئِكَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ ﴾
Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah mengeras hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. [Az-Zumar: 22]
Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam dulu sering berlindung kepada Allah dari hati yang tidak khusyu’, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullah:
Bahwa Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam dulu sering berdo’a:
« اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا »
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan.”
Allah telah mensyari’atkan berbagai jenis ibadah yang menampakkan kekhusyu’an hati dan badan. Di antaranya yang terbesar adalah ibadah shalat. Dan Allah telah memuji orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya dengan firman-Nya:
﴿ قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ. الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ ﴾
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, [Al-Mukminun: 1-2]
Mujahid berkata: “Dulu para ‘ulama, apabila salah seorang dari mereka berdiri dalam shalatnya, maka mereka taku kepada Ar-Rahman ‘Azza wa Jalla untuk melirikkan pandangannya, atau menoleh, atau memainkan pasir, atau melakukan sesuatu, atau mengajak berbicara dirinya tentang urusan dunia kecuali jika lupa, selama ia berada dalam shalatnya.”
Dalam Shahih Muslim dari shahabat ‘Utsman Radhiyallah ‘anhu dari Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
« مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاَةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلاَّ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ »
“Tidaklah seorang muslim yang telah tiba kepadanya waktu shalat wajib, kemudian dia membaikkan wudhu`nya, khusyu’nya, dan ruku’nya kecuali itu menjadi kaffarah (penebus) atas dosa yang telah lalu, selama tidak dilakukan dosa besar. dan itu berlaku sepanjang tahun.”
Wahai para hamba,
Untuk tercapainya khusyu’ ada sebab-sebabnya,
di antara sebab yang terbesar: Seorang hamba mengingat akan keagungan Allah ‘Azza wa Jalla yang dia sedang berdiri di hadapan-Nya, dan bahwasanya Dia dekat dengannya, melihat, dan mendengarnya, serta mengetahui segala apa yang terbesit dalam hatinya, sehingga mendorongnya untuk malu kepada-Nya ‘Azza wa Jalla.
Di antara sebab-sebab tercapainya khusyu’ dalam shalat: meletakkan tangan yang satu di atas tangan yang lain (bersedekap), yaitu meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di dada. Makna sikap yang demikian adalah menunjukkan pengrendahan diri dan berkeping-kepingnya hati di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla. Al-Imam Ahmad rahimahullah telah ditanya tentang maksud dari sikap (bersedekap) tersebut, maka beliau menjawab: “Itu merupakan bentuk pengrendahan diri di hadapan Dzat Yang Maha Perkasa.”
Di antara sebab-sebab tercapainya khusyu’ dalam shalat: menghentikan segala gerakan dan segala yang tidak bermanfaat, serta senantiasa diam. Oleh karena itu, ketika seorang ‘ulama salaf melihat seorang pria bermain-main dengan tangannya dalam shalatnya, maka ‘ulama salaf tersebut berkata, “Kalau seandainya hati orang ini khusyu’, niscaya akan khusyu’ pula anggota badannya.” Peristiwa ini diriwayatkan juga secara marfu’ sampai kepada Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam. Sebagian orang apabila dia berdiri menunaikan shalatnya, terkadang mereka masih bermain-main, menggerak-gerakkan tangan dan kakinya, atau bermain-main dengan jenggot dan hidungnya, sampai-sampai tingkah lakunya untuk mengganggu orang yang di sebelahnya. Ini menunjukkan tidak adanya khusyu’ dalam shalat.
Di antara sebab-sebab tercapainya khusyu’ dalam shalat: menghadirkan hati dalam shalat, dan tidak menyibukkan dengan berbagai kesibukan dan pekerjaan duniawi. Ia konsentrasi penuh menghadap kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan hatinya. Dan tidak menyibukkan dengan sesuatu selain shalat.
Telah ada larangan untuk menoleh dalam shalat. Dijelaskan oleh para ‘ulama, bahwa menoleh itu ada dua macam:
Pertama, berpalingnya hati dari Allah ‘Azza wa Jalla. Yaitu hati berpaling kepada dunia dan berbagai kesibukkannya, dan sama sekali tidak konsentrasi menghadap Rabbnya.
Dalam Shahih Muslim, dari Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam beliau bersabda tentang keutamaan dan pahala wudhu’:
« … فَإِنْ هُوَ قَامَ فَصَلَّى فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَمَجَّدَهُ بِالَّذِى هُوَ لَهُ أَهْلٌ وَفَرَّغَ قَلْبَهُ للهِ إِلاَّ انْصَرَفَ مِنْ خَطِيئَتِهِ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ »
“Jika kemudian dia berdiri menunaikan shalat, seraya memuji, menyanjung, dan memuliakan Allah dengan pujian yang sesuai bagi-Nya, dan hatinya konsentrasi penuh kepada Allah, maka ia akan terlepas dari dosa-dosa seperti kondisinya pada hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya.”
Kedua, menoleh dengan pandangan ke kanan atau ke kiri. Yang dituntunkan dalam syari’at adalah membatasi pandangan hanya pada tempat sujudnya saja, karena itu merupakan di antara konsekuensi kekhusyu’an, yang dengannya terputuslah darinya segala pemandangan di sekitarnya yang bisa menyibukkannya.
Dalam Shahih Al-Bukhari dari shahabat ‘Aisyah Radhiyallah ‘anha: “Saya bertanya kepada Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam dari menoleh/berpaling dalam shalat? Maka beliau menjawab:
« هُوَ اخْتِلاَسٌ يَخْتَلِسُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلاَةِ أَحَدِكُمْ »
“Itu adalah curian, yang dicuri oleh syaithan dari shalat kalian.”
Al-Imam Ahmad dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari shahabat Al-Harits Al-Asy’ari, dari Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam: Bahwa Allah memerintahkan Nabi Yahya bin Zakariyya ‘alaihis salam untuk menegakkan shalat.
فَإِنَّ اللَّهَ يَنْصِبُ وَجْهَهُ لِوَجْهِ عَبْدِهِ مَا لَمْ يَلْتَفِتْ ، فَإِذَا صَلَّيْتُمْ فَلاَ تَلْتَفِتُوا
Sesungguhnya Allah menghadapkan wajah-Nya kepada wajah hamba-Nya selama sang hamba tersebut tidak berpaling/menoleh. Maka jika kalian sedang shalat jangalah berpaling/menoleh.”
Al-Imam Ahmad juga meriwayatkan dari shahabat Abu Dzarr Radhiyallah ‘anhu, dari Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Allah senantiasa menghadap kepada seorang hamba dalam shalat-Nya selama sang hamba tersebut tidak berpaling/menoleh. Jika sang hamba tersebut berpaling/menoleh, maka Allah pun akan berpaling darinya.”
Wahai para hamba Allah,
Sesungguh ibadah shalat, dalam semua gerakannya menunjukkan ketundukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Seperti berdiri, ruku’, sujud, serta bacaan dzikir yang diucapkan dalam masing-masing gerakan tersebut. Allah berfirman:
﴿ وَقُومُوا للهِ قَانِتِينَ ﴾
“Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” [Al-Baqarah: 238]
Allah berfirman:
﴿ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ ﴾
“Ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’ “ [Al-Baqarah: 43]
Karena ruku’ merupakan bentuk ketundukan kepada Allah dan menghinakan diri di hadapan-Nya dengan sikap badan. Sungguh orang-orang yang mutakabbir (sombong) menolak untuk sujud kepada Allah, maka Allah pun mengancam mereka dengan firman-Nya:
﴿ وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ارْكَعُوا لا يَرْكَعُونَ. وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ ﴾
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ruku’lah kalian, niscaya mereka tidak mau ruku’. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” [Al-Mursalat: 48-49]
Di antaranya juga adalah sujud, yang itu merupakan gerakan terbesar yang tampak padanya kehinaan seorang hamba terhadap Rabb-nya ‘Azza wa Jalla. Yaitu ketika sang hamba menjadikan anggota badan yang paling utama dan paling mulia serta paling tinggi, menjadi paling rendah di hadapan Rabb-nya. Sang hamba meletakkan wajahnya ke tanah, diiringi dengan berkeping-keping hati, merendah, dan kekhusyu’an kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Oleh karena itu balasan bagi seorang mukmin apabila ia melakukan hal tersebut, maka Allah mendekatkannya kepada-Nya. Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
« أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ »
“Sesungguh kondisi terdekat seorang hamba kepada Rabb-nya adalah ketika dia sedang sujud.”
Allah telah berfirman kepada Nabi-Nya:
﴿ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ ﴾
“dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah).” [Al-’Alaq: 19]
Iblis telah sombong dari sujud, maka ia menuai laknat dan kehinaan. Demikian kaum musyrikin dan munafiqin telah sombong dari sujud, maka Allah ‘Azza wa Jalla ancam mereka bahwa mereka akan Allah haramkan dari sujud kepada-Nya pada hari pertemuan dengan-Nya, karena mereka tidak mau sujud kepada-Nya di dunia. Allah Ta’ala berfirman:
﴿ يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلا يَسْتَطِيعُونَ. خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ ﴾
“Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak mampu melakukannya, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) telah diajak untuk bersujud, dalam keadaan mereka sejahtera.” [Al-Qalam: 42-43]
Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallah ‘anhu berkata, aku mendengar Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
« يَكْشِفُ رَبُّنَا عَنْ سَاقِهِ فَيَسْجُدُ لَهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ ، وَيَبْقَى مَنْ كَانَ يَسْجُدُ فِى الدُّنْيَا رِئَاءً وَسُمْعَةً ، فَيَذْهَبُ لِيَسْجُدَ فَيَعُودُ ظَهْرُهُ طَبَقًا وَاحِدًا »
“Rabb kita menyingkap betis-Nya, maka sujudlah kepada-Nya seluruh mukmin dan mukminah, namun tinggal orang-orang yang dulu sujud di dunia karena riya’ atau sum’ah. Dia berupaya hendak bersujud, namun ternyata punggungnya hanya satu tulang saja (sehigga tidak bisa digerakkan untuk sujud).”
Al-Imam Ibnu Katsir berkata: “Hadits diriwayatkan dalam dua kitab shahih (yakin Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim) dan kitab-kitab lainnya dari banyak jalur periwayatan dan berbagai macam lafazh, itu adalah hadits yang panjang dan terkenal.”
Di antara kesempurnaan kekhusyu’an seorang hamba dalam ruku’ dan sujudnya, bahwa apabila dia menghinakan diri dihadapan Rabbnya dengan ruku’ dan sujud, hendaknya dia menyifati Rabb-nya ketika itu dengan sifat Kemuliaan, Kebesaran, Keagungan, dan Ketinggian. Seakan-akan dia berkata: “Kehinaan dan kerendahan adalah sifatku, sementara Ketinggian, Keagungan, dan Kebesaran adalah sifat-Mu.” Oleh karena itu disyari’atkan kepada hamba dalam ruku’ untuk membaca:
( سبحان ربي العظيم )
“Maha Suci Rabbku yang Maha Agung”
Dan ketika sujud membaca:
( سبحان ربي الأعلى )
“Maha Suci Rabbku yang Maha Tinggi”
Wahai kaum muslimin,
Sesungguhnya merenungkan rahasia-rahasia dan faidah-faidah shalat adalah di antara yang bisa menjadikan seorang hamba mudah mengerjakannya dan bisa merasakan lezatnya. Sebagaimana sabda Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam:
وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلاَة
“Telah dijadikan kesejukan mataku dalam shalat.”
Allah telah berfirman:
﴿ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلا عَلَى الْخَاشِعِينَ ﴾
“Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’,” [Al-Baqarah: 45]
Allah juga berfirman:
﴿ وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ ﴾
“Minta tolonglah kalian (kepada Allah) dengan cara sabar dan shalat.” [Al-Baqarah: 45]
Allah juga berfirman:
﴿ وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ ﴾
“dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar, dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari pada ibadah-ibadah lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al-’Ankabut: 45]
Namun tatkala seorang hamba lalai dari berbagai faidah dan rahasia shalat, maka shalat menjadi berat atasnya. Apabila dia masuk padanya, seakan-akan dia berada dalam penjara sampai ia selesai darinya. Oleh karena itu kebanyakan motivasi pendorongnya untuk masuk dalam shalat, hanyalah dalam rangka sebagai suatu rutinitas belaka, atau sekadar membagus-baguskan diri.
Maka bertaqwalah kalian wahai para hamba Allah dalam shalat-shalat kalian. Karena sesungguhnya shalat merupakan tiang agama, bisa mencegah dari berbagai perbuatan keji dan dosa. Dan shalat merupakan wasiat terakhir Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam ketika beliau meninggalkan dunia ini, sekaligus amalan terakhir yang hilang dari agama. Maka tidak ada agama lagi setelah hilangnya shalat.
Diterjemahkan dari: http://www.sahab.net/home/index.php?threads_id=218
[1] Maksudnya: mengharap agar Allah mengabulkan doanya dan khawatir akan azab-Nya
Jumat, 24 April 2009
FESTIVAL JAJANAN BARENG KEJU KRAFT

FESTIVAL JAJANAN BARENG KEJU KRAFT
Bareng pak Bondan Wisata Kuliner “Maknyuss”
Syarat dan Ketentuan
Tanggal : 3 Mei 2009
Waktu : 9:00-Selesai
Tempat :Plasa Surabaya( Delta Plaza)
Syarat dan Ketentuan:
1.Setiap peserta menyiapkan setidaknya SATU makanan berupa resep baru, atau inovasi baru dari resep tradisional, yang mengandung setidaknya satu jenis keju krafts
2.Setiap makanan harus disiapkan SUDAH JADI
3.Setiap makanan harus menampilkan penyajian dan dekorasi visual yang menarik, yang menunjukkan keorisinalan, kreativitas, dan inovasi. Hal ini dapat dilihat dari: penggunaan warna yang kontras/saling melengkapi, bentuk, rasa, ukuran, dan variasi medium yang menggunakan yang tetap konsisten dengan ukuran porsi makanan
4.Setiap makanan harus disajikan dengan kemasan yang bersih/higienis dan disertai resep makanan yang diketik rapi.
Penyajian untuk penilaian:
Makanan akan diberikan nomor peserta oleh petugas penilain. Kelompok juri yang terdiri dari Bapak Bondan Winarno dan tim Jalan Sutra akan menilai makanan yang diikutsertakan.
Catatan: Informasi ini berupa undangan dari pihak Kraft selaku penyelengara, kebetulan Mushroom Factory mendapat kehormatan untuk berpartisipasi didalamnya. Itupun harus melalui seleksi panitia Kraft terlebih dahulu. Itung-itung promosi gratis produk dan cari investor, siapa tau bias masuk TiPi acara maknyussnya pak Bondan^__^. Informasi lebih lanjut dan mungkin rekan rekan bisa ikut, silahkan menghubungi CP dibawah ini.
Tambahan : Dalam acara ini ada band “Samson” (walaupun saya jg gak, tau band-bandan), katanya pasti rame sekali. So, silahkan datang, cicipi dan dukung stan kami ya….nikmati sajian aneka masakan jamur khas Mushroom Factory (promo MODE ON)
Our Outlet:
1.Tunjungan Plasa 1 Lt.5 (Depan cinema XXI)

2.Royal Plasa lt.3 (Depan Foodcourt)

3.CITO lt.3 (Depan Foodcourt)
4.Laguna "Pakuwon City" -->Opening Soon
Contact person:
Puguh :03160737860, 087851966686
TRIRIAN ARIANTO ST.
081357717142
Rabu, 08 April 2009
Belajar Dari Jepang!

Ternyata prinsip hidup ala Jepang ini merupakan tuntunan Islam, yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW., gak percaya silahkan kebet 8 prinsip hidup ini pada Kitab Riyadhus Sholihin karangan Imam An Nawawi, salam hangat!
Belajar dari Jepang
Banyak hal yang dapat kita pelajari dari negara yang mungil,kecil dibandingkan negara kita yang kaya raya,segala sesuatu ada,kekayaan alam yang luar biasa namun apa yang terjadi dengan bangsa indonesia? marilah kita lihat sejenak rahasia sukses negeri yang tidak lebih besar dari pulau sumatera ini,yang tidak memiliki kekayaan alam yang berarti,bahkan juga telah diluluh lantakkan bom atom (hirosima dan nagasaki) hingga sekarang masih tersisa zat radio aktifnya.
1. Menghargai waktu
Masyarakat jepang terkenal dengan kedisiplinannya terhadap waktu. Sungguh luar biasa bila anda melihat sendiri bagaimana masyarakat Jepang sangat pentingnya arti waktu bagi mereka. Lihatlah bila mereka berjalan, seperti mengejar sesuatu, hampir semua masyarakat Jepang memakai jam tangan kemanapun mereka pergi. Apabila anda terlambat semenit saja kereta, maka anda harus menunggu kereta selanjutnya. Mungkin ini sangat bertolak belakang dengan budaya masyarakat Indonesia yang terkenal dengan jam karet. Ironis memang, seharusnya kita masyarakat muslim lebih hebat dalam masalah waktu daripada bangsa jepang. Bukankah kita sudah dilatih sholat tepat waktu setiap hari? Apa yang salah dengan bangsa kita?
2. Kerja Keras
Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan. Di kampus, profesor juga biasa pulang malam (tepatnya pagi), membuat mahasiswa tidak enak pulang duluan. Fenomena Karoshi (mati karena kerja keras) mungkin hanya ada di Jepang. Sebagian besar literatur menyebutkan bahwa dengan kerja keras inilah sebenarnya kebangkitan dan kemakmuran Jepang bisa tercapai.
3. Malu
Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Bagaimana mereka secara otomatis langsung membentuk antrian dalam setiap keadaan yang membutuhkan, pembelian ticket kereta, masuk ke stadion untuk nonton sepak bola, di halte bus, bahkan untuk memakai toilet umum di stasiun-stasiun, mereka berjajar rapi menunggu giliran. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.
4. Bersih, teratur dan rapi
Alangkah nikmatnya bila kita berjalan jalan (hampir diseluruh wilayah jepang). Begitu nyaman, bersih dan tertata dengan rapi. Masyarakat jepang sudah terbiasa dengan membuang sampah ditempatnya, bahkan sudah biasa dipisahkan, antara sampah yang dapat di bakar, sampah dapur, atau sampah lainnya sudah tertata dengan rapih, bahkan berbeda sampah berbeda pula hari dan jadwal membuangnya.
5. Hidup Hemat
Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00. Contoh lain adalah para ibu rumah tangga yang rela naik sepeda menuju toko sayur agak jauh dari rumah, hanya karena lebih murah 20 atau 30 yen. Banyak keluarga Jepang yang tidak memiliki mobil, bukan karena tidak mampu, tapi karena lebih hemat menggunakan bus dan kereta untuk bepergian. Termasuk saya dulu sempat berpikir kenapa pemanas ruangan menggunakan minyak tanah yang merepotkan masih digandrungi, padahal sudah cukup dengan AC yang ada mode dingin dan panas. Alasannya ternyata satu, minyak tanah lebih murah daripada listrik. Profesor Jepang juga terbiasa naik sepeda tua ke kampus, bareng dengan mahasiswa-mahasiswanya.
6. Inovasi
Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassette Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillips Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah. Mobil yang dihasilkan juga relatif lebih murah, ringan, mudah dikendarai, mudah dirawat dan lebih hemat bahan bakar. Perusahaan Matsushita Electric yang dulu terkenal dengan sebutan “maneshita” (peniru) punya legenda sendiri dengan mesin pembuat rotinya. Inovasi dan ide dari seorang engineernya bernama Ikuko Tanaka yang berinisiatif untuk meniru teknik pembuatan roti dari chef di Osaka International Hotel, menghasilkan karya mesin pembuat roti (home bakery) bermerk Matsushita yang terkenal itu.
7. Pantang Menyerah
Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia. Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo. Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen). Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassette Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan).
8. Budaya baca
Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi.Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institut penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan.
Bangsa Indonesia punya hampir semua resep orang Jepang diatas, hanya mungkin kita belum mengasahnya dengan baik. Di Jepang mahasiswa Indonesia termasuk yang unggul dan bahkan mengalahkan mahasiswa Jepang. Orang Indonesia juga memenangkan berbagai award berlevel internasional. Saya yakin ada faktor “non-teknis” yang membuat Indonesia agak terpuruk dalam teknologi dan ekonomi. Mari kita bersama mencari solusi untuk berbagai permasalahan republik ini. Dan terakhir kita harus tetap mau belajar dan menerima kebaikan dari siapapun juga.
Minggu, 05 April 2009
MENJADI ENTERPENEUR SEJAK MAHASISWA
Dialog Interpreneurship Bersama Iman Supriyono (SNF Consulting)
31 Januari 2009

“Indonesia merupakan negara berkembang yang memiliki tingkat pendapatan penduduk masih tergolong rendah. Pada akhir-akhir ini yang banyak orang yang mengejar kedudukan dibidang politik, padahal sangat banyak orang yang mengharapkan hal itu, sehingga peluang untuk mendapatkannya juga sangat sulit. Berbeda halnya dengan dunia enterpreneurship, sedikit orang yang mau mengerjakannya, padahal peluangnya sangat besar. Persaingan tidak terlalu berat” ucap penulis buku FSQ ini. Di Indonesia jumlah enterpreneur berkisar antara o,18% . Di negara maju misalnya USA 11% dan Singapura sebesar 6%. Jika kita bisa menambah jumlah enterpreneur tersebut maka kita dapat menciptakan lapangan pekerjaan yang bisa mengurangi jumlah pengangguran saat ini. Apalagi jumlah pengangguran saat ini menurut kompas paling banyak didominasi oleh lulusan Diploma dan Sarjana. Inilah yang menjadi tugas berat kita saat ini agar tidak menambah jumlah pada angka tersebut dan harus bisa menguranginya.
Menjadi enterpreneur bisa dimulai kapan pun. Akan tetapi tidak ada kata terlambat untuk memulainya. Memang menjadi enterpreneur yang sukses tidak semudah menjadi pegawai negeri. Kita bisa belajar enterpreneur dari berbagai tokoh yang sudah sukses di dunia enterpreneur, misalnya sahabat Nabi SAW yaitu Abdurrahman bin Auf. Beliau adalah orang yang ahli dalam bidang perdangan tanpa melupakan ibadahnya. Seperti itulah kita seharusnya ketika hidup di dunia. Ibadah tetap istiqomah dan berbisnis menjadi sarana untuk ibadah juga.
Prinsip dasar ketika memasuki dunia enterpreneur adalah kerjakan apa saja yang halal asal jangan sampai meminta-minta. Prinsip inilah yang membuat orang akan memiliki keberanian untuk menjadi enterpreneur yang sukses. Apabila kita telah bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri maka jati diri akan ditemukan. Apakah seseorang itu cocok menjadi enterpreneur atau tidak. Sebenarnya semua cocok tetapi bisa sukses atau tidak di dunia enterpreneur.
Untuk belajar masalah finansial agar dapat menjadi enterpreneur yang sukses ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Pertama, adalah belajar dari orang–orang yang sukses. Kedua, setelah belajar adalah melakukan tindakan atau take new action dari apa yang sudah dipelajari. Ketiga, pengulangan berkali-kali. Jika ada kegagalan jangan mundur. Keempa,t menciptakan kebaiasaan baru dari perulangan yang dilakukan. Keempat adalah mendatangkan hasil pada diri sendiri dengan mengetahui terus perkembangan usahanya melalui data tertulis
Belajar dari mas Tri Setyo Budiman

Tri Setyo Budiman, sang Miliarder dari Warung Bakso
*Dulu Dorong Gerobak, Kini Omzet Rp 22 Miliar Per Bulan*

Tidak perlu modal besar atau produk mewah untuk menjadi miliarder.
Tri Setyo Budiman, alumnus Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung
(ITB), berhasil memperoleh miliaran rupiah per bulan dari usaha
warung bakso.
*SOSOKNYA* tinggi besar. Suaranya juga besar dan berwibawa, kontras
dengan penampilannya yang sederhana. Ketika menemui /Jawa Pos/ di
salah satu kedai baksonya, Tri Setyo Budiman hanya mengenakan kaus
polo dan celana pendek.
Tidak disangka, pria yang menikmati masa remaja di Batu, Jawa Timur,
itu sukses mengeruk fulus dari bisnis yang kerap dipandang sebelah
mata: warung bakso. "Bakso memang kadang dilihat sebelah mata,
berbeda ketika kita bicara /steak/ atau pizza. Mungkin karena citra
warung bakso itu kumuh dan sempit," katanya.
Begitu pula keputusannya yang tidak populer 15 tahun lalu saat
terjun sebagai wirausahawan. Padahal, sebagai manajer pemasaran
nasional William Russel Grace Company, sebuah perusahaan kemasan
makanan asal Amerika Serikat, saat itu dia menikmati gaji Rp 7,5
juta per bulan plus tunjangan rumah dan sebuah mobil dinas.
"Saya merasa potensi dan kemampuan saya tujuh. Tapi, hanya dihargai
dua oleh perusahaan. Karena itu, dalam usia 32 tahun, saya ambil
pensiun diri, /bikin/ perusahaan sendiri," ujar pria kelahiran
Sumenep, Madura, 24 Juli 1961, itu.
Bisnis kuliner dipilih lantaran tak pernah mati. Selama orang masih
butuh makan, bisnis rumah makan tetap hidup. Bakso lantas dipilihnya
karena bisa dimakan siang maupun malam, seperti juga masakan padang.
Apalagi, selama ini bisnis itu menghidupi puluhan juta orang.
"Masalahnya, saya tidak bisa bikin bakso. Karena itu, saya pulang ke
Batu, beli resep bakso dan kuah dari salah satu kedai bakso yang
terkenal di sana," katanya.
Dengan modal dari sebagian uang pensiun, Tri membuat gerobak bakso.
Nahas, karena tidak berpengalaman mengoperasikan, gerobaknya
terbakar. Tungku api di bawah ketelnya terlalu dekat dengan dinding
gerobak. "Begitu dinyalakan, langsung terbakar, habis," katanya
terkekeh.
Tak menyerah, dia membuat satu gerobak lagi. Gerobak itu yang lantas
didorong keliling kampung di sekitar rumahnya di Jalan Empang Tiga,
Kalibata, Jakarta Selatan. Uniknya, Tri memilih trik promosi yang
tidak biasa. Dia berkeliling kampung untuk membagikan seluruh bakso
yang dimasaknya hari itu.
"Akhirnya orang sekampung tahu saya jualan bakso, dan baksonya enak.
Prinsip saya, sebelum kita kuasai kampung orang, kita kuasai dulu
kampung kita," terangnya.
Strategi itu efektif. Tak lama berkeliling, Tri lantas membuka kedai
bakso di garasi rumah. Kedai yang diberi nama Ino (nama panggilan
anaknya, Platinum) itu pun laris. Dalam waktu tak terlalu lama dia
bisa membuka cabang di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta
Timur. "Begitu satu cabang bisa hidup, /cash flow/-nya bagus, saya
langsung buka di tempat lain. Begitu terus sampai saya masuk ke
/rest area/ di jalan tol, mal, dan /stand alone /(kedai bakso untuk
pasar premium)," katanya.
Jumlah cabang yang terus berkembang menimbulkan masalah, terutama
pada keseragaman kualitas dan rasa baksonya. Pasalnya, membuat bakso
dari 300 kilogram daging tidak semudah ketika hanya membuat bakso
dari sekilogram daging. Bila kondisi itu dibiarkan, 200 ribu butir
bakso yang dibuatnya setiap hari terancam tidak sama rasanya di tiap
kedai.
"Kadang koki arogan, rasa bakso harus seperti keinginannya. Padahal,
tidak bisa seperti itu, karena saya bikin bakso itu pakai
penelitian. Berapa porsi dagingnya, berapa tepungnya, bagaimana
masaknya, berapa lama supaya kenyal. Itu semua pakai penelitian,"
katanya.
Karena itu, Tri lantas membuat dapur khusus pembuatan bakso dan
bumbu masak di rumahnya. Bakso dan bumbu yang sudah setengah jadi
didistribusikan ke seluruh cabang, termasuk ke Mal Nagoya di Batam.
"Saya buat penelitian lagi. Bumbunya saya /bikin/ jadi pasta dan
/powder /(bubuk). Takarannya juga diseragamkan. Jadi, koki tidak
bisa lagi memelintir rasa," katanya.
Dari dapur itu Tri lantas berkreasi membuat item-item masakan lain.
Mulai bakso urat, bakso daging sapi, bakso gepeng, hingga bakso
campur. Belakangan, sejumlah masakan lain juga dipasarkan di
kedainya, mulai gado-gado, soto betawi, sop iga, rawon, nasi goreng
/seafood, kwetiaw, cap cay/, dan /fuyunghai/.
Dia juga berkreasi membuat masakan /western/, seperti /spaghetti
bolognaise, chicken wing/, dan /french fries/. "Total ada 40 masakan
yang bumbunya dibuat secara seragam di dapur sentral. Semua kedai
harus patuh hanya berjualan yang ada di /menu list/ saya. Jangan
sampai ada yang jual kupat sayur misalnya," katanya.
Perlakuan yang sama harus diberikan karena tidak semua kedai
dimiliki secara penuh. Sebagian kedai didirikan dengan modal
teman-temannya. Ini dilakukan karena pembuatan satu kedai tidak
murah. Nilainya bervariasi, antara Rp 400 juta seperti kedai di
Cijantung dan Kalibata, Rp 800 juta seperti di Rest Area Km 19 Tol
Cipularang, hingga Rp 1,2 miliar seperti di kedai Tebet. "Semua bisa
balik modal 2-3 tahun," katanya.
Hingga kini gerai di Rest Area Km 19 paling ramai dan memberi
kontribusi terbesar bagi total omzet bakso Ino. Setiap bulan
rata-rata 15 ribu pengunjung menikmati bakso di sana. Setiap
pengunjung rata-rata membelanjakan Rp 25 ribu.
"Setiap gerai rata-rata mendapatkan Rp 50 juta per hari atau sekitar
Rp 1,5 miliar per bulan," ungkapnya. Dengan kata lain, bila
dikalikan dengan 15 kedai yang dimiliki, Tri Setyo Budiman bisa
memperoleh penghasilan rata-rata Rp 22,5 miliar per bulan.
Salah satu kiat suksesnya adalah pemilihan lokasi. Tri mengaku biasa
menongkrongi calon lokasi kedai berhari-hari sebelum memutuskan
mendirikannya di sana. "Kalau kita pakai prinsip lima P dalam
marketing, di bisnis kuliner itu tiga P pertama /place /(lokasi),
baru /product/ (produk) dan /price /(harga)," akunya/./
Bukan berarti Tri tak sempat bangkrut. Dua kedainya di Cikeas dan
Bendungan Hilir bangkrut tak sampai setahun setelah didirikan. Bukan
karena mismanajemen, melainkan faktor eksternal. Kenaikan harga BBM
membuat kawasan industri di Cikeas bangkrut. Otomatis kedai bakso
Ino terkena imbasnya.
"Ada pula kedai bakso di sebuah rumah sakit di Benhil yang tutup
karena orang enggan makan di rumah sakit yang dianggap sumber
penyakit. Padahal, di kedua tempat itu /traffic/-nya ramai," katanya.
Tri menegaskan, bila seseorang memutuskan terjun sebagai wirausaha,
salah satu syarat untuk /survive/ adalah kesabaran. "Tidak ada
sukses yang instan di bisnis. Perlakukan bisnis seperti bayi setiap
hari, sehingga sukses hari ini hanya /journey /(perjalanan) , bukan
/destination /(tujuan)," papar alumnus SMAN 3 Malang itu.
Meski kedai baksonya maju luar biasa, Tri mengaku tak berniat
mewaralabakan bisnisnya. Dia menilai waralaba akan berdampak buruk
dalam jangka panjang, terutama dari segi kualitas produk. Hingga
kini Tri juga mengaku kerap menahan dongkol karena satu lokasi yang
sudah diincar justru diberikan kepada waralaba asing, seperti kedai
kopi Starbucks atau Dunkin Donuts.
Pemilik gedung, kata dia, melihat keberadaan mereka sebagai
prestise. Jadi, tanpa diminta mereka menyediakan /space/ yang paling
strategis. Kalau perlu, sewanya murah. "Kita yang mau bayar sesuai
tarif justru ditolak-tolak. Jadi, kalau Starbucks ramai itu bukan
hal yang aneh. Anak kecil juga bisa," kata ketua DPP Asosiasi
Pedagang Mie dan Bakso (Apmiso) ini geram. (el)


